Minggu, 30 Desember 2012

karya tulis


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara adalah alat pemersatu berbagai bangsa yang mempunyai latar belakang etnis dan sosial budaya yang berbeda. Bahasa Indonesia harus digunakan sesuai dengan kaidah, tertib, cermat dan masuk akal. Bahasa Indonesia yang dipakai harus lengkap dan  baku. Tingkat kebakuannya diukur oleh aturan kebahasaan dan logika pemakaian.[1]
Pada dasarnya bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa penghubung antara suku di Nusantara dan sebagai bahasa yang digunakan dalam perdagangan antara pedagang dari dalam Nusantara dan dari luar Nusantara.[2]



Bahasa Melayu mudah dterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa penghubung antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa dan antarkerajaan. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia, oleh karena itu para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergrakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, bahasa perstuan untuk seluruh bangsa Indonesia.[3]
Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam Sumpah Pemuda yang berbunyi, ”Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertanah air satu,Tanah Air Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945, pada saat itu UUD 1945 disahkan sebagai UUD RI. Di dalam UUD 1945 disebutkan bahwa ”Bahasa Negara Adalah Bahasa Indonesia.” (pasal 36)
Sebagai bangsa Indonesia kita harus menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara. Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang disesuaikan dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dan situasi pembicaraan.
Namun seiring perkembangan zaman, tata bahasa Indonesia saat ini banyak mengalami perubahan. Masyarakat Indonesia, khususnya para remaja, sudah banyak kesulitan dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia.
Perubahan ini muncul karena adanya penggunaan bahasa baru yang mereka anggap sebagai kerativitas. Jika mereka tidak menggunakannya, maka takut dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Salah satu dari penyimpangan tesebut adalah digunakannya bahasa ‘alay’.
‘Alay’ adalah singkatan dari Anak Layangan, Anak Lebay, Anak Layu atau Anak Kelayapan yang menghubungkannya dengan anak JARPUL (Jarang Pulang). Dominannya istilah ini menggambarkan anak yang menganggap dirinya keren secara busananya.[4]
Bahasa ‘alay’ adalah bahasa lisan yang dituliskan sehingga mengandung unsur bahasa tulisan. Bahasa alay mudah ditemui dalam pesan pendek (SMS) atau status di facebook dan twitter  yang dikirim dari kalangan muda.
Pesatnya perkembangan jumlah pengguna bahasa ‘alay’ menunjukkan semakin akrabnya generasi muda Indonesia dengn dunia teknologi terutama internet. Dengan pesatnya penggunaan jejaring sosial seperti facebook, twitter dan lain sebagainya. Bukan hanya dalam dunia maya, bahasa ‘alay’ juga banyak ditemukan di televise, radio, majaah bahkan Koran.
Munculnya bahasa ‘alay’ juga menunjukkan adanya perkembangan zaman yang dinamis, karena suatu bahasa harus menyesuaikan dengan masyarakat penggunanya agar tetap eksis.
Pengguna bahasa ‘alay’ yang semakin merebak di kalangan remajamerupakan fenomena yang perlu mendapat perhatian khusus dari kalangan akademisi. Hal ini desebabkan oleh penggunaan bahasa ‘alay’ yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.[5]
Remaja saat ini lebih cenderung menggunakan bahasa ‘alay’ yang dalam tulisannya mempengaruhi keutuhan bahasa Indonesia, seperti “aku/saya” digantikan “Q, aqu, saiia” dan juga “kamu/anda/kau/ lebih sering diganti dengan “Qm, kamoe, amu’’, “belum” diganti dengan “lom, lum” dan sebagainya.
Dengan penggunaan bahasa ‘alay’oleh remaja yang semakin berkembang ini, bisa jadi suatu saat nanti masyarakat sudah tidak lagi mengenal bahasa baku dan tidak memakai EYD sebagai pedoman dalam berbahasa, sehingga menganggap remeh bahasa Indonesia.
Bahasa ‘alay’ juga merupakan sinyal ancaman yang sangat serius terhadap bahasa Indonesia dan pertanda semakin buruknya kemampuan berbahasa generasi muda zaman sekarang. Dalam ilmu linguistic dikenal adanya beragam bahasa baku dan tidak baku. Bahasa tidak baku biasanya digunakan dalam acara-acara yang kurang formal. Akan tetapi, bahasa ‘alay’ merupakan bahasa gaul yang tidak mengindah.[6]
Jika hal ini terus berlangsung, dikhawatirkan akan menghilangkan budaya berbahasa Indonesia yang baik dan benar dikalangan remaja dan anak-anak. Padahal bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi Negara kita dan sebagai identitas bangsa serta pemersatu bangsa.
Dari uraian di atas, maka penulis tertarik untuk menulis karya tulis dengan judul “Penggunaan Bahasa ‘Alay’ Di Kalangan Remaja”.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain:
1.      Faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan bahasa ‘alay’ di kalangan remaja?
2.      Bagaimana cara remaja mengekspresikan penggunaan bahasa ‘alay’?
3.      Bagaimana pengaruh bahasa ‘alay’ terhadap eksistensi bahasa Indonesia di kalangan remaja?

1.3  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini antara lain:
1.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa ‘alay’ di kalangan remaja.
2.      Untuk mengetahui cara remaja mengekspresikan penggunaan bahasa ‘alay’?
3.      Untuk mengetahui pengaruh bahasa ‘alay’ terhadap eksistensi bahasa Indonesia di kalangan remaja.

1.4  Manfaat Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:
1.      Dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa ‘alay’ di kalangan remaja.
2.      Dapat mengetahui cara remaja mengekspresikan penggunaan bahasa ‘alay’?
3.      Dapat mengetahui pengaruh bahasa ‘alay’ terhadap eksistensi bahasa Indonesia di kalangan remaja.

1.5  Batasan Masalah
Dalam karya tulis ini terdapat batasan masalah yang akan dipaparkan guna menghindari terjadinya perluasan masalah, yaitu sebagai berikut:
1.      Penelitian ini hanya ditujukan pada kelas XII IS 2, dikarenakan banyaknya ruangan kelas di SMA Negeri 2 Kab. Tebo.
2.      Dalam penelitian ini hanya ditujukan mengenai penggunaan bahasa ‘alay’ yang sangat berpengaruh terhadap bahasa Indonesia.

1.6  Metodologi Penelitian
1.6.1     Lokasi Penelitian
Dalam metode penelitian wawancara, penulis melakukan wawancara terhadap siswa kelas XII IS 2 SMA Negeri 2 Kabupaten Tebo.

1.6.2      Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah metode pendekatan kualitatif, yaitu pendekatan jika data-datanya sedikit, bersifat monografis, berupa kasus-kasus atau konsep-konsep abstrak sehingga sulit dinyatakan dalam angka. Ini terjadi karena objek ilmu sosial adalah manusia yang jalan pikiran dan perilakunya sulit diamati, dihitung dan dikendalikan.
Berdaraskan Sumber Data
a)      Penelitian dengan Data Primer
Dalam hal ini, data yang diperoleh oleh penulis adalah dari wawancara langsung dengan narasumber yang bersangkutan.

b)      Penelitian dengan Data Sekunder
Data yang pnulis peroleh adalah dari analisis media massa yaitu, internet yang berkaitan dengan penggunaan bahasa ‘alay’.

1.6.3         Teknik Pengumpulan Data
Untuk mempermudah dalam pengumpulan data maka, metode yang digunakan oleh penulis adalah wawancara, tinjauan pustaka, analisis media massa dan dokumentasi.
·         Wawancara
Penulis menggunakan metode wawancara bebas, yaitu wawancara yang dilakukan dengan narasumber dengan cara menanyakan sebebasnya yang berkaitan dengan tema atau topik untuk mendapatkan data yang valid. Penulis melakukan wawancara dengan siswa kelas XII IS 2 SMA Negeri 2 Kab. Tebo.
·         Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka, yaitu kegiatan penelusuran dan menelaah literature, studi pustaka bisa dilakukan yang tujuannya untuk mendapatkan ide-ide baru untuk diangkat menjadi tema penelitian dan dapat digunakan sebagai sumber data sekunder.

·         Analisis Isi Media Massa
Analisis isi media massa, yaitu penelitian yantg dapat diperoleh datanya melalui media massa, seperti buku, televisi maupun internet. Penulis mencari berbagai sumber dari media internet untuk mendapatkan data sekunder yang dapat mendukung isi penelitian tentang tema yang penulis teliti.


·         Dokumentasi
Dokumentasi, yaitu barang-barang  tertulis. Dalam hal ini dokumentasi dilakukan terhadap berbagai sumber data yang berasal Ndari siswa maupun buku dan internet yang berkaitan dengan penggunaan bahasa ‘alay’.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1  Pengertian Bahasa
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.
Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi, setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena setiap lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna. Contoh lambang bahasa yang berbunyi “nasi” melambangkan konsep atau makna ‘sesuatu yang biasa dimakan orang sebagai makanan pokok’.


2.2  Karakteristik Bahasa
Telah disebutkan di atas bahwa bahasa adalah sebuah sistem berupa bunyi, bersifat abitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa di antara karakteristik bahasa adalah abitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi.
1.      Bahasa Bersifat Abritrer
Bahasa bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu. Secara kongkret, alasan “kuda” melambangkan ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’ adalah tidak bisa dijelaskan.
Meskipun bersifat abritrer, tetapi juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dia akan mematuhi, misalnya, lambang ‘buku’ hanya digunakan untuk menyatakan ‘tumpukan kertas bercetak yang dijilid’, dan tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah melanggar konvensi itu.


2.      Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Misalnya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000 buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
3.      Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai kemungkinan perubahan sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon. Pada setiap waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
4.      Bahasa Bersifat Beragam
Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan di Yogyakarta. Begitu juga bahasa Arab yang digunakan di Mesir berbeda dengan yang digunakan di Arab Saudi.
5.      Bahasa Bersifat Manusiawi
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan dinamis. Manusia dalam menguasai bahasa bukanlah secara instingtif atau naluriah, tetapi dengan cara belajar. Hewan tidak mampu untuk mempelajari bahasa manusia, oleh karena itu dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi.

2.3  Pengertian ‘Alay’
Kata ‘alay’ bisa diartikan sebagai Anak Layangan, Anak Lebay, Anak Kelayapan dan lain sebagainya. Dimana anak-anak tersebut sering didefinisikan sebagai anak-anak yang berkelakuan ‘tidak biasa’ atau dapat dikatakan berlebihan. Anak-anak ini ingin diketahui statusnya diantara tenan-teman sejawatnya, mereka ingin selalu memperlihatkan keeksisan atau kenarsian mereka dalam segala hal. Misalnya dalam hal berpakaian, bertingkah laku serta berbahasa (baik lisan maupun tulisan).

Pengertian alay menurut beberapa ahli:
1.      Koentjara Ningrat
"Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya (baca: Pengguna internet sejati, kayak blogger dan kaskuser). Diharapkan Sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar".
2.      Selo Soemaridjan
"Alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat diantara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi dengan dandanan seperti itu."

2.4  Pengertian Bahasa ‘Alay’
Dalam ilmu bahasa, bahasa ‘alay’ termasuk sejenis bahasa ‘diakronik’, yaitu bahasa yang dipakai oleh suatu kelompok dalam kurun waktu tertentu. Ia akan berkembang hanya dalam kurun tertentu. Perkembangan bahasa diakronik ini, tidak hanya penting dipelajari oleh para ahli bahasa, tetapi juga ahli sosial atau mungkin juga politik. Sebab bahasa merupakan sebuah fenomena sosial. Ia hidup dan berkembang karena fenomenal sosial tertentu.
Bahasa Alay menurut Sahala Saragih, dosen Fakultas Jurnalistik Universitas Padjajaran, merupakan bahasa sandi yang hanya berlaku dalam komunitas mereka. Tentu saja itu tidak mungkin digunakan ke pihak di luar komunitas mereka misalnya guru dan orangtua. Penggunaan bahasa sandi itu menjadi masalah bila digunakan dalam komunikasi massa karena lambang yang mereka pakai tidak dapat dipahami oleh segenap khayalak media massa atau dipakai dalam komunikasi formal secara tertulis.
2.5  Karekteristik Bahasa ‘Alay’
Seiring dengan semakin banyaknya pengguna bahasa ‘alay’ pada kalangan remaja, variasi atau karakteristiknya pun semakin beragam antara lain:
a)      Pemakaian huruf besar kecil yang berantakan dalam satu kalimat.
Contoh: “kaMu Lagi nGapaiN?”
b)      Penggunaan angka sebagai pengganti huruf.
Contoh: “k4mu l49i n94p4in?”
c)      Penambahan atau pengurangan huruf-huruf dalam satu kalimat.
Contoh: “amue agie ngapaein?”
d)     Menambahkan atau mengganti salah satu huruf dalam kalimat.
Contoh: “xmoe agie ngaps?”
e)      Penggunaan simbol-simbol dalam kalimat.
Contoh: “k@mu L@g! nG@p@!n?”

2.6  Asal Mula Penggunaan Bahasa ‘Alay’
Dengan semakin berkembangnya teknologi, terutama berkembangnya siklus jejaring sosial, seperti facebook dan twitter. Pada tahun 2008, muncul suatu bahasa baru di kalangan remaja, yang disebut bahasa ‘alay’. Kemunculannya dapat dikatakan fenomenal, karena cukup menyita perhatian. Bahasa bbaru ini seolh menggeser penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja. Mereka lebih tertarik untuk menggunakan bahasa ‘alay’ yang dapat digunakan sesuai keinginan mereka daripada menggunakan bahasa Indonesia yang kaku dan baku.
Namun jika diteliti lebih lanjut, penggunaan bahasa ‘alay’ ini sudah ada jauh sebelum bahasa ‘alay’ berkembang di facebook dan twitter, yaitu ditandai dengan maraknya penggunaan singkatan dalam mengirim pesan pendek atau SMS (Short Message Sevice). Hanya saja pada saat itu belum disebut dengan bahasa ‘alay’. Selain itu ada banyak tambahan variasi yang menyebabkan bahasa tersebut kemudian disebut dengan bahasa ‘alay’. Misalnya dalam bentuk sms biasa, “km lg ngapa?” yang dimaksud adalah “kamu lagi ngapain?”, dan dalam bentuk SMS ‘alay’ menjadi, “xm Gy nGaps?”. Tujuan awalnya adalah sama yaitu untuk mengirimkan pesan yang singkat, padat dan dapat menekan biaya.

2.7  Perkembangan Bahasa ‘Alay’
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa bahasa ‘alay’ sudah mulai berkembang pesat seiring berkembangnya teknologi. Yang sebelumnya hanya digunakan oleh kalangan tertentu, sekarang bahasa ‘alay’ sudah dapat digunakan oleh berbagai kalangan, tidak terkecuali anak-anak. Yang semula hanya digunakan dalam bentuk tulisan, sekarang bahasa ‘alay’ sudah banyak ditemukan dalam bentuk lisan.
Bagi mereka yang sudah terbiasa dan menyukai kebiasaan mereka berbahasa ‘alay’, hal tersebut merupakn kesenangan dan kebanggaan tersendiri. Mereka menginginkan untuk menjadi yang paling “keren” dari teman-temannya. Mereka menganggap bahwa bahasa ‘alay’ merupakan bentuk kreativitas yang harus mereka kembangkan untuk mencapai sebuah kepuasan dan untuk mendapatkan pujian dari teman-temannya. Namun dalam pandangan orang lain yang tidak terbiasa mendengar atau menggunakan bahasa ‘alay’, hal ini justru sangat “norak” dan kampungan. Mereka tidak mau menerima adanya bahasa ‘alay’ karena mereka terganggu dan menganggap bahasa ‘alay’ adalah bahasa yang sangat sulit untuk dipahami serta tidak mudah dimengerti.
2.8  Kamus Bahasa ‘Alay’
‘Alay’ sekarang sudah menjadi bahasa sehari-hari para remaja. Bahasa ‘alay’ memang menjadi fenomena mereka ada dimana-mana dari SMS, status facebook sampai twitter. Tidak ada aturan yang jelas dalam bahasa ini, mungkin tergantung selera dari penggunanya. Banyaknya kosakata dalam bahasa ‘alay’ sehingga dapat dijadikan kamus ‘alay’.
Table 1. Kamus ‘Alay’
Bahasa Indonesia
Bahasa ‘Alay’
Gue
W, Wa, Q, Qu, G
Kamu
U
Rumah
Humz, Hozz
Yang
Iank/Iang, Eank/Eang
Boleh  
Leh
Baru
Ru
Ya/Iya            
Yupz, Ia, Iupz
Kok                                                    
KoQ, KuQ, Kog, Kug
Nih                                                     
Niyh, Niech, Nieyh
Belum                                                 
Lom, Lum
Manis                                                 
Maniezt, Manies
Tempat                                               
T4
Sayang
Saiankk
Ketawa
Wkwkwk, xixiixi, haghaghag
Tau                                                     
Taw, Tawh, Tw
SMS                                                   
ZMZ, XMX, MZ
Lucu                                                   
Luthu, Uchul, Luchuw
Banget                                                
Bangedh, Beud, Beut
Gitu                                                    
Gtw, Gitchu, Gituw
Buat
Wat/wad
Imut                                                   
Imoetz, Mutz
Lagi                                                    
Ghiy, Ghiey, Gi
Sempat
S4
Karena/Soalnya                                  
Coz, Cz
Maaf
Mu’uv, Muupz, Muuv
Kakak
kakagg
Punya
Pya, p’y
Nggak
Gga, Gx, Gag
Kamu dalam hidupku
QmO dLaM iDopQhO          
Senang
cNeNk
Terimakasih sebelumnya
tHanKz b’4    
Kamu memang sulit buat sayang sama aku
qMo mANk cLiD wAd cYanK m qHo
Aku tau
q tWo
Tapi kamu perlu tau
tPhE qMo pLu tHwO
Cuman buat kamu
aLwaYs 4’U  














BAB III
PENGGUNAAN BAHASA ‘ALAY’ DI KALANGAN REMAJA

3.1  Faktor Remaja Menggunakan Bahasa ‘Alay’
Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, secara tidak langsung membawa perubahan pada bahasa Indonesia. Perubahan tersebut tampak pada kalangan Anak Baru Gede (ABG) atau remaja saat mengirim SMS (Short Message Service), berkomunikasi dalam dunia maya dengan facebook ataupun twitter. Fenomena tersebut ditandai dengan penulisan dengan banyak penyingkatan, huruf besar dan kecil, huruf dan angka ataupun dengan istilah istilah ‘alay’.
Hampir semua remaja menggunakan bahasa ‘alay’ seperti yang dikatakan narasumber berikut:

Afni Sofia Nengsih (17 tahun)
Aku make bahasa ‘alay’ ini udah sejak aku SMP  sampe sekarang juga masih make kok, tapi intinya sejak aku punya Hp”.

Evira Andriani (17 tahun)
“Mulai pake bahasa ini sejak aku
di SMA”.        
                       
Isro’i Pratama Putra (17 tahun)
“Sejak aku kelas 1 SMP aku udah make bahasa ‘alay’”.

Yongky Prasetya (17 tahun)
“Sejak aku SMP, sama sejak udah punya  Hp itu jadi sering pake bahasa ‘alay’”.

Perkembangan bahasa ‘alay’ yang semakin fenomenal dan meluas menunjukkan bahwa bahasa ‘alay’ semakin banyak digandrungi kaum remaja bahkan sejak mereka duduk di bangku SMP dan sejak mengenal teknologi komunikasi yaitu handphone.
Merebaknya penggunaan bahasa ‘alay’ dikalangan remaja, menarik perhatian penulis untuk mengungkapkan faktor yang menyebabkan para remaja menggunakan bahasa ‘alay’. Dari analisis media massa, penulis mendapatkan beberapa faktor yang membuat remaja menggunakan bahasa ‘alay’.
1.      Teknologi komunikasi dan informasi
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin maju dan canggih seperti handphone dan internet telah merubah pola pikir sebagian remaja. Dengan handphone remaja dapat berkomunikasi denagn orang lain dengan cara mengirim SMS atau telefon.
Internet yang saat ini telah menjadi jendela dunia juga mempengaruhi penggunaan bahasa ‘alay’ di kalangan remaja. Dimana dengan internet mereka dapat mencari berbagai macam jenis bahasa ‘alay’ yang berbaru agar bahasa ‘alay’ yang mereka gunakan tidak monoton.

2.      Ingin Diakui Keberadaannya
Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, dimana mereka selalu ingin diakui keberadaannya diantara kelompoknya. Remaja sebagai kelompok usia yang sedang mencari identitas diri memiliki kekhasan dalam menggunakan bahasa tulis di SMS, facebook dan twitter. Faktor inilah yang menyebabkan remaja marak menggunakan bahasa ‘alay’.


3.      Tidak Ingin dibilang ketinggalan Zaman
Remaja yang masih labil dan gemar meniru, sangatlah mudah tertular dan memilih menggunakan bahasa ‘alay’ daripada menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apalagi ada anggapan bahwa bahasa ini adalah bahasa gaul, sehingga orang yang tidak menggunakannya akan dianggap ketinggalan zaman atau kuno begitu pula sebaliknya.
Karena anggapan inilah remaja mengguankan bahasa tulis denagn ciri khas tersendiri. Mereka tidak ingin terlihat cupu (culun punya) diantara teman-temannya. Hal ini dibenarkan oleh narasumber yang mengatakan bahwa:

Isro’i Pratama Putra (17 tahun)
“Pake bahasa ‘alay’ tu biar gak ketinggalan zaman, soalnya banyak yang pake bahasa itu. Jadi ya gak mau dibilang ketinggalan zaman ma temen-temen. Sory la yaw dibilang cupu hehee…”

4.      Tidak Membosankan
Bahasa ‘alay’ yang mempunyai ciri khas tersendiri membuat remaja semakin senang menggunakannya. Karena dengan adanya ciri khas yang dimilikinya akan memberikan kesenangan tersendiri bagi remaja penggunanya. Mereka cenderung tidak menyukai bahasa yang mempunyai banyak aturan yang akan mengarah kea rah baku dan kaku karena akan menimbulkan rasa bosan saat menggunakannya.

Afni Sofia Nengsih (17 tahun)
“Aku suka pakenya soalnya tuh bahasanya gak ngebosenin, gak itu itu aja,beda lah sama bahasa Indonesia soalnya kalo bahasa Indonesia itu banyak aturannya jadinya cepet bosen”.

Karena bahasa Indonesia yang kaku dan baku serta mempunyai banyak aturan, hal ini yang menyebabkan mereka lebih senang menggunakan bahasa ‘alay’ yang tidak membosankan dan bahasa ‘alay’ bukan merupakan bahasa yang kaku dan baku, sehingga mereka dapat dengan mudah dalam menggunakannya.  Karena alasan ini remaja-remaja sekarang semakin erat dengan bahasa ‘alay’ daripada bahasa Indonesia.



5.      Memiliki Banyak Variasi
Bahasa ‘alay’ dari waktu ke waktu telah mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat, hal ini desebabkan banyaknya pengguna dari bahasa itu sendiri. Hal ini menyebabkan variasi dalam bahasa ‘alay’ semakin banyak dan beragam.

Afni Sofia Nengsih (17 tahun)
“Iya variasinya banyak banget. Misalnya aja ya kalo ngetik SMS bisa pake angka-angka gitu. Contoh waktu ngetik “tempat” disa jadi “t4” terus masih banyak lagi sih”.

Isor’i Pratama Putra (17 tahun)
“Banyak banget macem-macemnya. Misalnya pas lagi ngomong suka banget bilang “ciyus”, “miapah”, “so gue harus bilang WOW gitu”. Hehe…. Terus kalo di SMS contohnya “cecai’ artinya tu “selesai”.

Gambar 1. Variasi Bahasa ‘Alay’

 


6.      Mengikuti Trend
Saat ini di kalangan remaja sedang marak menggunakan jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Dimana dalam jejaring sosial tersebut banyak pengguna yang menggunakan bahasa ‘alay’. Sehingga banyak remaja yang mengikuti trend tersebut. Seperti yang dikatakan narasumber bahwa:


Evira Andriani (17 tahun)
“Karna yang laen pada pake bahasa itu, jadinya yaa.. ngikutin trend aja”.

7.      Gengsi dan Ikut-ikutan
Banyak remaja yang menggunakan bahasa ‘alay’ karena faktor gengsi dan ikut-ikutan belaka. Hal ini disebabkan karena pola pikir mereka yang masih labil. Hal ini dibenarkan oleh narasumber yang mengatakan bahwa:

Yongky Prasetya (17 tahun)
“Ngikutin arus temen-temen aja sih, biar enak aja sama naikin gengsi juga lah yaaa.. haaha..”.

Isro’i Pratama Putra (17 tahun)
“Gengsi lah ya kalo ga meke bahasa itu, soalnya temen-temen juga make sih”.

Hal ini membuktikan bahwa remaja sekarang lebih mengutamakan gengsi yang ada pada diri mereka. Gengsi pada remaja sangat tinggi dan mereka tidak mau tertinggal dari remaja lain. Sehingga mereka tertarik untuk mengikuti dan kemudian menggunakan bahasa ‘alay’ yang sedang berkembang saat ini.

8.      Tidak terikat EYD
Bahasa alay merupakan bahasa gaul yang dalam penulisannya sama sakali tidak memperhatikan aturan EYD. Sehingga bahasa yang diciptakan tidak baku dan kaku. Hal ini yang menyebebkan remaja mempenyai kesenangan tersendiri untuk menggunakan bahasa ‘alay’.

9.      Ingin Selalu Eksis
Remaja adalah kelompok yang ingin selalu eksis diantara teman-temannya. Mereka ingin selalu tampak keren dan menonjol satu sama lain. Sehingga mereka akan selalu mencoba hal-hal baru yang mereka anggap unik, terbaru dan menarik agar mereka tetap eksis diantara teman-temannya. Salah satu contoh, mereka menggunakan bahasa ‘alay’ dalam situasi apapun agar eksistensi mereka tidak pudar.
3.2  Cara Remaja Mengekspresikan Penggunaan Bahasa ‘Alay’
Semakin merebaknya penggunaan bahasa ‘alay’ dan semakin banyaknya kosakata bahasa ‘alay’ membuat remaja menjadi semakin tertarik untuk selalu menggunakan bahasa ‘alay’. Dari analisis media massa, penulis menemukan beberapa cara yang dilakukan remaja dalam mengekspresiakn penggunaan bahasa ‘alay’.
1.      Komunikasi di Jejaring Sosial
Jejaring sosial seperti facebook dan twitter sekarang ini sedang marak di kalangan remaja. Dimana para penggunanya dapat berkomunikasi dengan pengguna lain di luar daerahnya. Dan mereka dapat update status, upload fota dan lain sebaganya. Remaja biasanya menggunakan jejaring sosial ini untuk update status dan upload foto.
Remaja ‘alay’ biasanya menuliskan statusnya dengan menggunakan bahasa ‘alay’ yang mempunyai ciri khas tersendiri. Seperti biasa mereka akan menggunakan variasi antara huruf dan angka, huruf besar dan kecil ataupun menggunakan symbol-simbol tertentu. Hal ini dibenarkan oleh narasumber




Evira Andriani (17 tahun)
“seneng aja kalo bikin status pake bahasa ‘alay’, lebih percaya diri..heheh… kadang kalo lagi pinjem BB kakak sih sering banget make autotext sama emotnya, biar statusnya keliatan kerenn”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas, penggunaan bahasa ‘alay’ di dunia maya memang benar adanya. Bahasa ‘alay’ mereka dapat mereka salurkan melalui situs jejaring sosial dan hal tersebut memberiakn kesenangan serta menambah rasa percaya diri mereka diantara teman-temannya.
Gambar 2. Status dengan Bahasa ‘Alay’







2.      SMS (Short Message Service)
Handphone merupakan teknologi komunikasi yang dari waktu ke waktu semakin canggih dan semua jenis handphone dilengkapi dengan fasilitas SMS (Short Message Service). Hampir semua kelompok remaja sekarang memiliki handphone dan mereka menggunakannya untuk mengirimkan pesan singkat.
Tidak lupa pula mereka menggunakan bahasa ‘alay’ yang sudah menjadi ciri khas mereka saat mengetik SMS. Biasanya saat awal mngetik pesan, mereka mendahuluinya dengan titik spasi kemudain baru dituliskan pesannya.
Seperti yang dilakukan narasumber Yongky Prasetya (17 tahun) yang setiap megirim pesan singkat kepada teman-temannya selalu menggunakan bahas ‘alay’ dan menyingkatnya menjadi sesingkat mungkin. Hal ini juga dibenarkan oleh narasumber
Afni Sofia Nengsih (17 tahun)
“Waktu SMS sering banget pake bahasa ‘alay’ soalnya gak ribet, pas ngetiknya juga cepet kan bisa disingkat-singkat. Kalo pake bahasa Indonesia mana bisa disingkat kayak bahasa ‘alay’”.
Hal ini mkembuktian bahwa SMS merupakan media yang paling sering digunakan remaja untuk mengekspresikan dan menggunakan bahasa ‘alay’. Karena setiap hari remaja akan melakukan komunikasi dengan teman-teman sebayanya.

Gambar 3. SMS ‘Alay’


3.       
4.       
5.       
6.       
7.       
8.       
9.       
10.   


3.      Berbicara dengan Orang Lain
Saat berbicara dengan orang lain haruslah menggunakan bahasa yang jelas, baik dan benar agar mudah dipahami oleh lawan bicara. Namun sekaang, banyak remaja yang tidak memperhatikan aturan tersebut. Mereka sekarang lebih tertarik untuk menggunakan bahasa ‘alay’ ketika sedang berbicara dengan orang lain, baik dengan sesama pengguna bahasa ‘alay’ bahkan bukan dengan pengguna bahasa ‘alay’ tersebut.
Gambar 4. Percakapan Orang ‘Alay’









3.3  Pengaruh Bahasa ‘Alay’ Terhadap Eksistensi Bahasa Indonesia
            Bahasa Indonesia yang baik berarti maknanya dapat dipahami oleh komunikan dan ragamnya sudah sesuai dengan siuasi saat bahasa itu digunakan.
            Bahasa Indonesia yang benar berarti bahasa yang memiliki ragam formal dan taat pada kaidah bahasa baku.
            Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang maknanya dapat dipahami dan sesuai dengan situasi pemakainannya serta tidak menyimpang dari kaidah bahasa baku.
            Namun saat ini banyak remaja yang tidak memakai bahasa yang baik dan benar. Mereka lebih kepada memakai bahasa ‘alay’ yang sudah jelas dalam penulisan maupun pengucapannya tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Munculnya bahasa ‘alay’ merupakan ancaman yang sangat serius terhadap bahasa Indonesia. Bahasa ‘alay’ memberikan pengaruh bahwa kemampuan berbahasa remaja saat ini semakin buruk  dan jauh dari kata baik dan benar. Apabila kegemaran ini berlangsung lama dan makin dicintai, resmilah kita mengubur semangat sumpah pemuda berbahasa satu, bahasa Indonesia.
            Penggunaan bahasa ‘alay’ dalam komunikasi baik di dunia nyata maupun dunia maya menimbulkan beberapa masalah, antara lain:
o   Bahasa ‘alay’ dapat mempersulit penggunanya dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam acara formal. Misalnya ketika sedang presentasi di depan kelas.
o   Bahasa ‘alay’ dapat menyulitkan orang lain yang mendengar kata-kata yang termaksud ‘alay’ untuk mengerti maksud yang dibicarakannya. Misalnya ketika ingin berbicara rumah dia berkata humz, hum, um, atau hoz.
o    Bahasa ‘alay’ dapat menyulitkan orang lain yang membaca dengan gaya ‘alay’ untuk mengerti maksud dari apa yang ditulisnya. Misalnya ketika menulis “besok dating ke rumah saya”, ditulis dengan “b350k dtg k3 hoZz sAia”.
Akan tetapi sebagian orang mengatakan bahwa bahasa ‘alay’ dapat membawa pengaruh positif bagi remaja baik di dunia nyata maupun dunia maya, antara lain:
1.      Dengan digunakannya bahasa Alay adalah remaja menjadi lebih kreaif. Karena remaja dapat mengembangkan ide yang ada pada diri mereka dan mereka dapat menciptakan inovasi bahasa yang baru.
2.      Bahasa ‘alay’ adalah seni. Dengan mengkombinasikan antara huruf dan angka, setidaknya membuat orang lain untuk lebih mencermati bahwa kombinasi itu bisa di baca. Atau mungkin juga bisa jadi sebuah simbol atau kode rahasia.
            Meskipun bahasa ‘alay’ dapat memberikan pengaruh positif bagi remaja, namun bahasa ‘alay’ telah merusak keutuhan bahasa Indonesia. Hal tersebut dibenarkan oleh narasumber.
            Latifatul Anggraini (17 tahun)
“Menurut aku bahasa ‘alay’ sangat member pengaruh yang besar terhadap bahasa Indonesia, karna bahasa ‘alay’ telah merusak eksistensi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mungkin kelak bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas Negara Indonesia berangsur-angsur mulai hilang. Selain itu kemampuan para remaja menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar mulai berkurang. Mereka menganggap bahasa ‘alay’ lebih keren dari bahasa Indonesia. Kita sebagai remaja, sebenernya boleh-boleh aja berbahasa ‘alay’ namun harus pada porsi yang sesuai, hanya pada saat tertentu aja dan yang paling penting jangan terus-terusan, apalagi nntinya sampe lupa gimana caranya berbahasa Indonesia gegara bahasa ‘alay’. Hehehe… Contohnya gara-gara bahasa yang super ‘alay’ kalo lagi SMS-an kita kan jadi bingung maksud dari SMS itu. Kayak orang pacaran gara-gara maksud si cewe itu sedangkan si cowok itu kan jadi salah paham, terus tengkar dan bisa-bisa jadi putus deh…. Pokoknya bahasa ‘alay’ tuh gak terlalu menguntungkan deh, kalo dipilir-pikir lebih banyak ruginya. Dan jangan sampe loh nanti pelajaran bahasa Indonesia berubah jadi pelajaran bahasa ‘alay’. Hahaha..".

            Rindy Celviyanti (17 tahun)
“Menurut pendapat saya, sangat berpengaruh sekali terhadap bahasa Indonesia, disisi lain banyak remaja yang menggunakan bahasa ‘alay’ dibandingkan bahasa Indonesia karna lebih mengasikkan.. karna itulah bahasa Indonesia selalu ditinggalkan ataupun jarang sekali digunakan. Memang sih, bahasa ‘alay’ bisa buat hidup menjadi senag bagi remaja saat ini. Tidak ada masalahnya kok yang penting remaja saat ini masih mengetahui bahasa asli Negara kita sendiri”.


            Endah Sumardianti (17 tahun)
“Menurut saya, menggunakan bahasa ‘alay’ tidak terlalu penting karna bahasa ‘alay’ hanya digunakan untuk kesenangan belaka. Banyak anggaoanyang menyatakan menggunakan bahasa ‘alay’ itu gaul. Namun sebenarnya anggapan itu tidak terlalu benar karna menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benarlah yang dapatmembiasakan kita berkata baik dn santun. Sedangkan orang yang menggunakan bahasa ‘alay’ terkadang dalam berkata bahasa Indonesia masih tercampur aduk dengan bahasa ‘alay’ yang sering digunakannya. Hal itulah yang mempengaruhi bahasa Indonesia menjadi tidak efektif”.

            Eva Indriani (16 tahun)
“Bahasa Indonesia jadi tersingkirkan karna banyak anak muda kalo ngomong gak pake bahasa Indonesia yan baik dan benar jistru make bahasa ‘alay’ biar terkesan gaul. Dia tu gengsi kalo make bahasa Indonesia, padahalkan bahasa Indonesia itu bagus. Cumin pemikiran anak muda sekarang tu kayaknya kalo gak ‘alay’ itu gak maju, mereka gak mau dianggap cupu”.

            Hal ini membuktikan bahwa bahasa ‘alay’ telah menghambat perkembangan bahasa Indonesia di kalangann remaja. Pengaruh bahasa ‘alay’ terhadap eksistensi bahasa Indonesia sangat besar. Bahasa Indonesia sekarang sudah jauh dari kata indah karena telah dicemari oleh penggunaan bahasa ‘alay’ yang semakin merajelela. Pengaruh tersebut antara lain:
o   Masyarakat Indonesia tidak mengenal lagi bahasa baku.
o   Masyarakat Indonesia tidak memakai lagi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
o   Masyarakat Indonesia menganggap remeh bahasa Indonesia dan tidak mau mempelajarinya karena merasa dirinya telah menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar.
o   Dulu anak – anak kecil bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi sekarang anak kecil lebih menggunakan bahasa gaul. Misalnya dulu kita memanggil orang tua dengan sebutan ayah atau ibu, tapi sekarang anak kecil memanggil ayah atau ibu dengan sebutan bokap atau nyokap.
o   Penulisan bahasa indonesia menjadi tidak benar. Yang mana pada penulisan bahasa indonesia yang baik dan, hanya huruf awal saja yang diberi huruf kapital, dan tidak ada penggantian huruf menjadi angka dalam sebuah kata ataupun kalimat.
Bahasa Alay secara langsung maupun tidak telah mengubah remaja Indonesia untuk tidak mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Jika hal ini terus berlangsung, dikahawatirkan akan menghilangkan budaya berbahasa Indonesia dikalangan remaja bahkan dikalangan anak-anak. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa remi negara kita dan juga sebagai identitas bangsa.












BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Faktor penyebab penggunaan bahasa ‘alay’ di kalangan remaja antara lain:
·         Teknologi komunikasi dan informasi
·         Ingin diakui keberadaannya
·         Tidak ingin dibilang ketinggalan zaman
·         Tidak membosankan
·         Memiliki banyak variasi
·         Mengikuti trend
·         Gengsi dan ikut-ikutan
·         Tidak terikat EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)
·         Ingin selalu eksis

Cara remaja mengekspresikan penggunaan bahasa ‘alay’ antara lain:
·         Komunikasi di jejaring sosial
·         SMS (Short Message Service)
·         Berbicara dengan orang lain


Dampak penggunaan bahasa ‘alay’ antara lain:
·         Dampak positif
o   Dengan digunakannya bahasa Alay adalah remaja menjadi lebih kreaif
o   Bahasa ‘alay’ adalah seni

·         Dampak negatif
o   Masyarakat Indonesia tidak mengenal lagi bahasa baku.
o   Masyarakat Indonesia tidak memakai lagi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
o   Masyarakat Indonesia menganggap remeh bahasa Indonesia dan tidak mau mempelajarinya karena merasa dirinya telah menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar.
o   Dulu anak – anak kecil bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi sekarang anak kecil lebih menggunakan bahasa ‘alay’
o   Bahasa ‘alay’ dapat mempersulit penggunanya dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam acara formal.
o   Bahasa ‘alay’ dapat menyulitkan orang lain yang mendengar kata-kata yang termaksud ‘alay’ untuk mengerti maksud yang dibicarakannya.
o   Bahasa ‘alay’ dapat menyulitkan orang lain yang membaca dengan gaya ‘alay’ untuk mengerti maksud dari apa yang ditulisnya.

Tata bahasa Indonesia pada saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Masyarakat Indonesia khususnya para remaja, sudah banyak kesulitan dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan adanya penggunaan bahasa baru yang mereka anggap sebagai kreativitas. Jika mereka tidak menggunakannya, mereka takut dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Salah satu dari penyimpangan bahasa tersebut diantaranya adalah digunakannya bahasa ‘alay’.
Bahasa ‘alay’ secara langsung maupun tidak telah mengubah remaja Indonesia untuk tidak mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dan ini merupakan pertanda kemampuan berbahasa generasi muda zaman sekarang buruk. Memang dalam ilmu bahasa ada beragam bahasa baku dan tidak baku. Bahasa baku biasanya digunakan dalam acara-acara yang formal. Tetapi bahasa ‘alay’ merupakan bahasa gaul yang tidak mengindah. Keberadaan bahasa ‘alay’ memang sangat mengganggu eksistensi bahasa Indonesia. Banyak remaja yang sudah tidak mengindahkan bahasa Indonesia dan banyak dari mereka yang tidak lagi mengenal bahasa Indonesia yang baik dan benar.

4.2  Saran
Adapun saran yang dapat penulis cantumkan dalam karya tulis ini adalah sebaiknya remaja jangan berlebihan dalam menggunakan bahasa ‘alay’ karena dapat mengganggu perkembangan bahasa Indonesia di kalangan remaja. Dan hendaknya melakukan pemahaman yang mendalam terhadap pengaruh bahasa ‘alay’ serta mulailah dari diri kita sendiri untuk membudidayakan bahasa Indonesia dan meningkatkan kembali eksistensinya di kalangan remaja.
Kita boleh menggunakan bahasa ‘alay’, akan tetapi jangan sampai menghilangkan budaya berbahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi kenegaraan dan lambang dari identitas nasional, yang kedudukannya tercantum dalam Sumpah Pemuda dan UUD 1945 Pasal 36.
Untuk peneliti selanjutnya,  penulis menyarankan untuk meneliti lebih mendalam mengenai faktor-faktor penggunaan bahasa ‘alay’ dan pengaruh bahasa ‘alay’ terhadap eksistensi bahasa Indonesia.







DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012.”Penggunaan Bahasa Alay”.(Online) http://ayumeilana.blogspot.com/2010/10/bahasa-alay-mengancam-penggunaan-bahasa.html. Diakses 1 September 2012.
Anonim.2012.”Bahasa ‘Alay’ Merusak Bahasa Indonesia”.(Online) http://aaknasional.wordpress.com/2012/01/28/bahasa-alay-merusak-bahasa-indonesia/. Diakses  1 September 2012.
Anonim.2012.” Bahasa Indonesia”.(Online)
Diakses 14 September 20 12.
Anonim.20 12 .”Trend Bahasa Alay”.(Online)
Anonim.20 12 .”Dampak Bahasa Alay”.(Online) http://sikenarok.blogspot.com/2011/05/dampak-penggunaan-bahasa-alay.html. Diakses 5 September 2012.
Anonim.”Perkembangan Bahasa Indonesia”.(Online) http://ovaltinesusu.wordpress.com/2012/01/15/bagaimanakah-perkembangan-bahasa-indonesia-saat-ini/. Diakses 14 September 20 12.
Anonim.”Faktor Menyukai Bahasa Alay”.(Online)
Anonim.20 12 .”Bahasa Alay”.(Online) http://romiranggapp.blogspot.com/2012/02/bahasa-alay-merusak-tata-bahasa.html. Diakses 5 September 2012
Anonim.20 10.”Pengertian Alay”.(Online) http://lupherblueniz.blogspot.com/2010/03/definisi-alay-menurut-para-ahli-kamus.html. Diakses 12 September 20 12






DAFTAR INFORMAN

No
Nama
Umur
Kelas
1.
Afni Sofia Nengsih
17 Tahun

XII IS 2
2.
Eva Indriani
16 Tahun

XII IS 2
3.
Endah Sumardianti
17 Tahun

XII IS 2
4.
Evira Andriani
17 Tahun

XII IS 2
5.
Isro’i Pratama Putra
17 Tahun

XII IS 2
6.
Latifatul Anggraini
17 Tahun

XII IS 2
7.
Rindy Celviyanti
17 Tahun

XII IS 2
8.
Yongky Prasetya
17 Tahun

XII IS 2

PEDOMAN WAWANCARA

1.      Sejak kapan anda menggunakan bahasa ‘alay’?
2.      Faktor apa saja yang membuat anda menggunakan bahasa ‘alay’?
3.      Kapan biasanya anda menggunakan bahasa ‘alay’?
4.      Apakah anda selalu menggunakan bahasa ‘alay’?
5.      Dalam bentuk apa anda mengekspresikan kesenangan anda menggunakan bahasa ‘alay’? Lisan atau tulisan?
6.      Anda lebih sering menggunakan bahasa ‘alay’ atau bahasa Indonesia?
7.      Kenapa anda menyukai bahasa ‘alay’ daripada bahasa Indonesia?
8.      Menurut anda bagaimana perkembangan bahasa Indonesia sekarang?






DOKUMENTASI

























BIODATA



Nama                                       : Reni Chotimah
Tempat Tanggal Lahir             : Rimbo Bujang, 11 Mei 1994
Jenis Kelamin                          : Perempuan
Agama                                     : Islam
Alamat                                                : Jalan 11 Unit 1 Rimbo Bujang
Riwayat Pendidikan               : TK Pertiwi I Kabupaten Tebo Tahun 2000
                                                   SD Negeri 60 Kabupaten Tebo Tahun 2006
                                                   SMP Negeri 31 Kabupaten Tebo Tahun 2010
SMA Negeri 2 Kabupaten Tebo Tahun  2010 - sekarang

1 komentar:

  1. kei aplikasi lah..
    delok wek q...
    http://anggorojokosiswantounja.blogspot.com/
    http://anggorojokosiswanto.blogspot.com/

    BalasHapus