BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Bahasa
Indonesia sebagai bahasa Negara adalah alat pemersatu berbagai bangsa yang
mempunyai latar belakang etnis dan sosial budaya yang berbeda. Bahasa Indonesia
harus digunakan sesuai dengan kaidah, tertib, cermat dan masuk akal. Bahasa
Indonesia yang dipakai harus lengkap dan
baku. Tingkat kebakuannya diukur oleh aturan kebahasaan dan logika
pemakaian.[1]
Pada
dasarnya bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu dipakai
sebagai bahasa penghubung antara suku di Nusantara dan sebagai bahasa yang
digunakan dalam perdagangan antara pedagang dari dalam Nusantara dan dari luar
Nusantara.[2]
Bahasa
Melayu mudah dterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa penghubung
antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa dan antarkerajaan. Perkembangan
bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa
persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia, oleh karena itu para pemuda
Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergrakan secara sadar mengangkat
bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, bahasa perstuan untuk seluruh bangsa
Indonesia.[3]
Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28
Oktober 1928 dalam Sumpah Pemuda yang berbunyi, ”Kami putera
dan puteri Indonesia mengaku bertanah air satu,Tanah Air Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia
mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia. Kami putera dan
puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal
18 Agustus 1945, pada saat itu UUD 1945 disahkan sebagai UUD RI. Di dalam UUD 1945
disebutkan bahwa ”Bahasa Negara Adalah Bahasa Indonesia.” (pasal 36)
Sebagai
bangsa Indonesia kita harus menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara.
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang disesuaikan dengan EYD
(Ejaan Yang Disempurnakan) dan situasi pembicaraan.
Namun
seiring perkembangan zaman, tata bahasa Indonesia saat ini banyak mengalami
perubahan. Masyarakat Indonesia, khususnya para remaja, sudah banyak kesulitan
dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
serta sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa
Indonesia.
Perubahan
ini muncul karena adanya penggunaan bahasa baru yang mereka anggap sebagai kerativitas.
Jika mereka tidak menggunakannya, maka takut dibilang ketinggalan zaman atau
tidak gaul. Salah satu dari penyimpangan tesebut adalah digunakannya bahasa
‘alay’.
‘Alay’
adalah singkatan dari Anak Layangan, Anak Lebay, Anak Layu atau Anak Kelayapan
yang menghubungkannya dengan anak JARPUL (Jarang Pulang). Dominannya istilah
ini menggambarkan anak yang menganggap dirinya keren secara busananya.[4]
Bahasa ‘alay’ adalah bahasa lisan
yang dituliskan sehingga mengandung unsur bahasa tulisan. Bahasa alay mudah
ditemui dalam pesan pendek (SMS) atau status di facebook dan twitter yang dikirim dari kalangan muda.
Pesatnya perkembangan jumlah
pengguna bahasa ‘alay’ menunjukkan semakin akrabnya generasi muda Indonesia
dengn dunia teknologi terutama internet. Dengan pesatnya penggunaan jejaring
sosial seperti facebook, twitter dan
lain sebagainya. Bukan hanya dalam dunia maya, bahasa ‘alay’ juga banyak
ditemukan di televise, radio, majaah bahkan Koran.
Munculnya bahasa ‘alay’ juga
menunjukkan adanya perkembangan zaman yang dinamis, karena suatu bahasa harus
menyesuaikan dengan masyarakat penggunanya agar tetap eksis.
Pengguna
bahasa ‘alay’ yang semakin merebak di kalangan remajamerupakan fenomena yang
perlu mendapat perhatian khusus dari kalangan akademisi. Hal ini desebabkan
oleh penggunaan bahasa ‘alay’ yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia
yang baik dan benar.[5]
Remaja
saat ini lebih cenderung menggunakan bahasa ‘alay’ yang dalam tulisannya
mempengaruhi keutuhan bahasa Indonesia, seperti “aku/saya” digantikan “Q, aqu,
saiia” dan juga “kamu/anda/kau/ lebih sering diganti dengan “Qm, kamoe, amu’’,
“belum” diganti dengan “lom, lum” dan sebagainya.
Dengan
penggunaan bahasa ‘alay’oleh remaja yang semakin berkembang ini, bisa jadi
suatu saat nanti masyarakat sudah tidak lagi mengenal bahasa baku dan tidak
memakai EYD sebagai pedoman dalam berbahasa, sehingga menganggap remeh bahasa
Indonesia.
Bahasa
‘alay’ juga merupakan sinyal ancaman yang sangat serius terhadap bahasa
Indonesia dan pertanda semakin buruknya kemampuan berbahasa generasi muda zaman
sekarang. Dalam ilmu linguistic dikenal adanya beragam bahasa baku dan tidak
baku. Bahasa tidak baku biasanya digunakan dalam acara-acara yang kurang
formal. Akan tetapi, bahasa ‘alay’ merupakan bahasa gaul yang tidak mengindah.[6]
Jika
hal ini terus berlangsung, dikhawatirkan akan menghilangkan budaya berbahasa
Indonesia yang baik dan benar dikalangan remaja dan anak-anak. Padahal bahasa
Indonesia merupakan bahasa resmi Negara kita dan sebagai identitas bangsa serta
pemersatu bangsa.
Dari
uraian di atas, maka penulis tertarik untuk menulis karya tulis dengan judul
“Penggunaan Bahasa ‘Alay’ Di Kalangan Remaja”.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain:
1.
Faktor apa saja yang mempengaruhi
penggunaan bahasa ‘alay’ di kalangan remaja?
2.
Bagaimana cara remaja mengekspresikan
penggunaan bahasa ‘alay’?
3.
Bagaimana pengaruh bahasa ‘alay’
terhadap eksistensi bahasa Indonesia di kalangan remaja?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun
tujuan dalam penelitian ini antara lain:
1.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi penggunaan bahasa ‘alay’ di kalangan remaja.
2.
Untuk mengetahui cara remaja
mengekspresikan penggunaan bahasa ‘alay’?
3.
Untuk mengetahui pengaruh bahasa ‘alay’
terhadap eksistensi bahasa Indonesia di kalangan remaja.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah, adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:
1.
Dapat mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi penggunaan bahasa ‘alay’ di kalangan remaja.
2.
Dapat mengetahui cara remaja
mengekspresikan penggunaan bahasa ‘alay’?
3.
Dapat mengetahui pengaruh bahasa ‘alay’
terhadap eksistensi bahasa Indonesia di kalangan remaja.
1.5 Batasan Masalah
Dalam
karya tulis ini terdapat batasan masalah yang akan dipaparkan guna menghindari
terjadinya perluasan masalah, yaitu sebagai berikut:
1.
Penelitian ini hanya ditujukan pada
kelas XII IS 2, dikarenakan banyaknya ruangan kelas di SMA Negeri 2 Kab. Tebo.
2.
Dalam penelitian ini hanya ditujukan
mengenai penggunaan bahasa ‘alay’ yang sangat berpengaruh terhadap bahasa
Indonesia.
1.6 Metodologi Penelitian
1.6.1
Lokasi
Penelitian
Dalam
metode penelitian wawancara, penulis melakukan wawancara terhadap siswa kelas
XII IS 2 SMA Negeri 2 Kabupaten Tebo.
1.6.2
Jenis Penelitian
Jenis
penelitian yang digunakan penulis adalah metode pendekatan kualitatif, yaitu
pendekatan jika data-datanya sedikit, bersifat monografis, berupa kasus-kasus
atau konsep-konsep abstrak sehingga sulit dinyatakan dalam angka. Ini terjadi
karena objek ilmu sosial adalah manusia yang jalan pikiran dan perilakunya
sulit diamati, dihitung dan dikendalikan.
Berdaraskan
Sumber Data
a)
Penelitian dengan Data Primer
Dalam
hal ini, data yang diperoleh oleh penulis adalah dari wawancara langsung dengan
narasumber yang bersangkutan.
b)
Penelitian dengan Data Sekunder
Data
yang pnulis peroleh adalah dari analisis media massa yaitu, internet yang
berkaitan dengan penggunaan bahasa ‘alay’.
1.6.3
Teknik Pengumpulan Data
Untuk
mempermudah dalam pengumpulan data maka, metode yang digunakan oleh penulis
adalah wawancara, tinjauan pustaka, analisis media massa dan dokumentasi.
·
Wawancara
Penulis menggunakan
metode wawancara bebas, yaitu wawancara yang dilakukan dengan narasumber dengan
cara menanyakan sebebasnya yang berkaitan dengan tema atau topik untuk
mendapatkan data yang valid. Penulis melakukan wawancara dengan siswa kelas XII
IS 2 SMA Negeri 2 Kab. Tebo.
·
Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka, yaitu kegiatan
penelusuran dan menelaah literature, studi pustaka bisa dilakukan yang
tujuannya untuk mendapatkan ide-ide baru untuk diangkat menjadi tema penelitian
dan dapat digunakan sebagai sumber data sekunder.
·
Analisis Isi Media Massa
Analisis isi media
massa, yaitu penelitian yantg dapat diperoleh datanya melalui media massa,
seperti buku, televisi maupun internet. Penulis mencari berbagai sumber dari
media internet untuk mendapatkan data sekunder yang dapat mendukung isi
penelitian tentang tema yang penulis teliti.
·
Dokumentasi
Dokumentasi, yaitu
barang-barang tertulis. Dalam hal ini
dokumentasi dilakukan terhadap berbagai sumber data yang berasal Ndari siswa
maupun buku dan internet yang berkaitan dengan penggunaan bahasa ‘alay’.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
2.1 Pengertian Bahasa
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan
sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun,
lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk
berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau
perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem
lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan
manusiawi.
Bahasa adalah sebuah sistem,
artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan
dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi, setiap lambang
bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena setiap
lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat
disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna. Contoh lambang
bahasa yang berbunyi “nasi” melambangkan konsep atau makna ‘sesuatu yang biasa
dimakan orang sebagai makanan pokok’.
2.2 Karakteristik Bahasa
Telah disebutkan di atas bahwa
bahasa adalah sebuah sistem berupa bunyi, bersifat abitrer, produktif, dinamis,
beragam dan manusiawi. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa di
antara karakteristik bahasa adalah abitrer, produktif, dinamis, beragam, dan
manusiawi.
1.
Bahasa
Bersifat Abritrer
Bahasa
bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan
tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang
tersebut mengonsepi makna tertentu. Secara kongkret, alasan “kuda” melambangkan
‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’ adalah tidak bisa
dijelaskan.
Meskipun
bersifat abritrer, tetapi juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu
bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dia
akan mematuhi, misalnya, lambang ‘buku’ hanya digunakan untuk menyatakan
‘tumpukan kertas bercetak yang dijilid’, dan tidak untuk melambangkan konsep
yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah melanggar konvensi itu.
2. Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa
bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas, namun
dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Misalnya, menurut
Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa
Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000
buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
3. Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa
bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai kemungkinan
perubahan sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran
apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon. Pada setiap
waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata
lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
4. Bahasa Bersifat Beragam
Meskipun
bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu
digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan
kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran
fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang
digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan di Yogyakarta. Begitu juga
bahasa Arab yang digunakan di Mesir berbeda dengan yang digunakan di Arab
Saudi.
5. Bahasa Bersifat Manusiawi
Bahasa
sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai
bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa bunyi atau
gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan dinamis. Manusia dalam menguasai
bahasa bukanlah secara instingtif atau naluriah, tetapi dengan cara belajar.
Hewan tidak mampu untuk mempelajari bahasa manusia, oleh karena itu dikatakan
bahwa bahasa itu bersifat manusiawi.
2.3 Pengertian ‘Alay’
Kata
‘alay’ bisa diartikan sebagai Anak Layangan, Anak Lebay, Anak Kelayapan dan lain
sebagainya. Dimana anak-anak tersebut sering didefinisikan sebagai anak-anak
yang berkelakuan ‘tidak biasa’ atau dapat dikatakan berlebihan. Anak-anak ini
ingin diketahui statusnya diantara tenan-teman sejawatnya, mereka ingin selalu
memperlihatkan keeksisan atau kenarsian mereka dalam segala hal. Misalnya dalam
hal berpakaian, bertingkah laku serta berbahasa (baik lisan maupun tulisan).
Pengertian
alay menurut beberapa ahli:
1.
Koentjara
Ningrat
"Alay adalah gejala yang
dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara
teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain,
sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya
(baca: Pengguna internet sejati, kayak blogger dan kaskuser). Diharapkan Sifat
ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar".
2.
Selo
Soemaridjan
"Alay adalah perilaku remaja
Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat diantara yang lain.
Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan
ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi
dengan dandanan seperti itu."
2.4 Pengertian Bahasa ‘Alay’
Dalam
ilmu bahasa, bahasa ‘alay’ termasuk sejenis bahasa ‘diakronik’, yaitu bahasa
yang dipakai oleh suatu kelompok dalam kurun waktu tertentu. Ia akan berkembang
hanya dalam kurun tertentu. Perkembangan bahasa diakronik ini, tidak hanya
penting dipelajari oleh para ahli bahasa, tetapi juga ahli sosial atau mungkin
juga politik. Sebab bahasa merupakan sebuah fenomena sosial. Ia hidup dan
berkembang karena fenomenal sosial tertentu.
Bahasa
Alay menurut Sahala Saragih, dosen Fakultas Jurnalistik Universitas Padjajaran,
merupakan bahasa sandi yang hanya berlaku dalam komunitas mereka. Tentu saja itu
tidak mungkin digunakan ke pihak di luar komunitas mereka misalnya guru dan
orangtua. Penggunaan bahasa sandi itu menjadi masalah bila digunakan dalam
komunikasi massa karena lambang yang mereka pakai tidak dapat dipahami oleh
segenap khayalak media massa atau dipakai dalam komunikasi formal secara
tertulis.
2.5 Karekteristik Bahasa ‘Alay’
Seiring
dengan semakin banyaknya pengguna bahasa ‘alay’ pada kalangan remaja, variasi
atau karakteristiknya pun semakin beragam antara lain:
a) Pemakaian
huruf besar kecil yang berantakan dalam satu kalimat.
Contoh:
“kaMu Lagi nGapaiN?”
b) Penggunaan
angka sebagai pengganti huruf.
Contoh:
“k4mu l49i n94p4in?”
c) Penambahan
atau pengurangan huruf-huruf dalam satu kalimat.
Contoh:
“amue agie ngapaein?”
d) Menambahkan
atau mengganti salah satu huruf dalam kalimat.
Contoh:
“xmoe agie ngaps?”
e) Penggunaan
simbol-simbol dalam kalimat.
Contoh:
“k@mu L@g! nG@p@!n?”
2.6 Asal Mula Penggunaan Bahasa ‘Alay’
Dengan
semakin berkembangnya teknologi, terutama berkembangnya siklus jejaring sosial,
seperti facebook dan twitter. Pada tahun 2008, muncul suatu
bahasa baru di kalangan remaja, yang disebut bahasa ‘alay’. Kemunculannya dapat
dikatakan fenomenal, karena cukup menyita perhatian. Bahasa bbaru ini seolh
menggeser penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja. Mereka lebih tertarik
untuk menggunakan bahasa ‘alay’ yang dapat digunakan sesuai keinginan mereka
daripada menggunakan bahasa Indonesia yang kaku dan baku.
Namun
jika diteliti lebih lanjut, penggunaan bahasa ‘alay’ ini sudah ada jauh sebelum
bahasa ‘alay’ berkembang di facebook dan
twitter, yaitu ditandai dengan
maraknya penggunaan singkatan dalam mengirim pesan pendek atau SMS (Short
Message Sevice). Hanya saja pada saat itu belum disebut dengan bahasa ‘alay’.
Selain itu ada banyak tambahan variasi yang menyebabkan bahasa tersebut
kemudian disebut dengan bahasa ‘alay’. Misalnya dalam bentuk sms biasa, “km lg
ngapa?” yang dimaksud adalah “kamu lagi ngapain?”, dan dalam bentuk SMS ‘alay’
menjadi, “xm Gy nGaps?”. Tujuan awalnya adalah sama yaitu untuk mengirimkan
pesan yang singkat, padat dan dapat menekan biaya.
2.7 Perkembangan Bahasa ‘Alay’
Seperti
yang telah dijelaskan di atas bahwa bahasa ‘alay’ sudah mulai berkembang pesat
seiring berkembangnya teknologi. Yang sebelumnya hanya digunakan oleh kalangan
tertentu, sekarang bahasa ‘alay’ sudah dapat digunakan oleh berbagai kalangan,
tidak terkecuali anak-anak. Yang semula hanya digunakan dalam bentuk tulisan,
sekarang bahasa ‘alay’ sudah banyak ditemukan dalam bentuk lisan.
Bagi
mereka yang sudah terbiasa dan menyukai kebiasaan mereka berbahasa ‘alay’, hal
tersebut merupakn kesenangan dan kebanggaan tersendiri. Mereka menginginkan
untuk menjadi yang paling “keren” dari teman-temannya. Mereka menganggap bahwa
bahasa ‘alay’ merupakan bentuk kreativitas yang harus mereka kembangkan untuk
mencapai sebuah kepuasan dan untuk mendapatkan pujian dari teman-temannya.
Namun dalam pandangan orang lain yang tidak terbiasa mendengar atau menggunakan
bahasa ‘alay’, hal ini justru sangat “norak” dan kampungan. Mereka tidak mau
menerima adanya bahasa ‘alay’ karena mereka terganggu dan menganggap bahasa
‘alay’ adalah bahasa yang sangat sulit untuk dipahami serta tidak mudah dimengerti.
2.8 Kamus Bahasa ‘Alay’
‘Alay’ sekarang sudah menjadi bahasa
sehari-hari para remaja. Bahasa ‘alay’ memang menjadi fenomena mereka ada
dimana-mana dari SMS, status facebook sampai twitter. Tidak ada aturan yang
jelas dalam bahasa ini, mungkin tergantung selera dari penggunanya. Banyaknya
kosakata dalam bahasa ‘alay’ sehingga dapat dijadikan kamus ‘alay’.
Table 1. Kamus ‘Alay’
|
Bahasa Indonesia
|
Bahasa ‘Alay’
|
|
Gue
|
W,
Wa, Q, Qu, G
|
|
Kamu
|
U
|
|
Rumah
|
Humz,
Hozz
|
|
Yang
|
Iank/Iang,
Eank/Eang
|
|
Boleh
|
Leh
|
|
Baru
|
Ru
|
|
Ya/Iya
|
Yupz,
Ia, Iupz
|
|
Kok
|
KoQ,
KuQ, Kog, Kug
|
|
Nih
|
Niyh,
Niech, Nieyh
|
|
Belum
|
Lom, Lum
|
|
Manis
|
Maniezt,
Manies
|
|
Tempat
|
T4
|
|
Sayang
|
Saiankk
|
|
Ketawa
|
Wkwkwk,
xixiixi, haghaghag
|
|
Tau
|
Taw,
Tawh, Tw
|
|
SMS
|
ZMZ,
XMX, MZ
|
|
Lucu
|
Luthu,
Uchul, Luchuw
|
|
Banget
|
Bangedh,
Beud, Beut
|
|
Gitu
|
Gtw,
Gitchu, Gituw
|
|
Buat
|
Wat/wad
|
|
Imut
|
Imoetz,
Mutz
|
|
Lagi
|
Ghiy,
Ghiey, Gi
|
|
Sempat
|
S4
|
|
Karena/Soalnya
|
Coz,
Cz
|
|
Maaf
|
Mu’uv,
Muupz, Muuv
|
|
Kakak
|
kakagg
|
|
Punya
|
Pya,
p’y
|
|
Nggak
|
Gga,
Gx, Gag
|
|
Kamu
dalam hidupku
|
QmO
dLaM iDopQhO
|
|
Senang
|
cNeNk
|
|
Terimakasih
sebelumnya
|
tHanKz
b’4
|
|
Kamu
memang sulit buat sayang sama aku
|
qMo
mANk cLiD wAd cYanK m qHo
|
|
Aku
tau
|
q
tWo
|
|
Tapi
kamu perlu tau
|
tPhE
qMo pLu tHwO
|
|
Cuman
buat kamu
|
aLwaYs
4’U
|
BAB
III
PENGGUNAAN
BAHASA ‘ALAY’ DI KALANGAN REMAJA
3.1 Faktor Remaja Menggunakan Bahasa
‘Alay’
Seiring
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, secara tidak langsung membawa
perubahan pada bahasa Indonesia. Perubahan tersebut tampak pada kalangan Anak
Baru Gede (ABG) atau remaja saat mengirim SMS (Short Message Service), berkomunikasi dalam dunia maya dengan facebook ataupun twitter. Fenomena tersebut ditandai dengan penulisan dengan banyak
penyingkatan, huruf besar dan kecil, huruf dan angka ataupun dengan istilah
istilah ‘alay’.
Hampir
semua remaja menggunakan bahasa ‘alay’ seperti yang dikatakan narasumber
berikut:
Afni
Sofia Nengsih (17 tahun)
“Aku make bahasa ‘alay’ ini udah sejak aku SMP sampe
sekarang juga masih make kok, tapi intinya sejak aku punya Hp”.
Evira
Andriani (17 tahun)
“Mulai pake bahasa ini sejak aku
di SMA”.
Isro’i
Pratama Putra (17 tahun)
“Sejak
aku kelas 1 SMP aku udah make bahasa ‘alay’”.
Yongky
Prasetya (17 tahun)
“Sejak
aku SMP, sama sejak udah punya Hp itu
jadi sering pake bahasa ‘alay’”.
Perkembangan
bahasa ‘alay’ yang semakin fenomenal dan meluas menunjukkan bahwa bahasa ‘alay’
semakin banyak digandrungi kaum remaja bahkan sejak mereka duduk di bangku SMP
dan sejak mengenal teknologi komunikasi yaitu handphone.
Merebaknya
penggunaan bahasa ‘alay’ dikalangan remaja, menarik perhatian penulis untuk
mengungkapkan faktor yang menyebabkan para remaja menggunakan bahasa ‘alay’.
Dari analisis media massa, penulis mendapatkan beberapa faktor yang membuat
remaja menggunakan bahasa ‘alay’.
1.
Teknologi
komunikasi dan informasi
Perkembangan
teknologi komunikasi dan informasi yang semakin maju dan canggih seperti handphone dan internet telah merubah
pola pikir sebagian remaja. Dengan handphone
remaja dapat berkomunikasi denagn orang lain dengan cara mengirim SMS atau
telefon.
Internet yang saat ini telah menjadi jendela dunia
juga mempengaruhi penggunaan bahasa ‘alay’ di kalangan remaja. Dimana dengan
internet mereka dapat mencari berbagai macam jenis bahasa ‘alay’ yang berbaru
agar bahasa ‘alay’ yang mereka gunakan tidak monoton.
2.
Ingin
Diakui Keberadaannya
Masa
remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, dimana mereka
selalu ingin diakui keberadaannya diantara kelompoknya. Remaja sebagai kelompok
usia yang sedang mencari identitas diri memiliki kekhasan dalam menggunakan
bahasa tulis di SMS, facebook dan twitter. Faktor inilah yang menyebabkan
remaja marak menggunakan bahasa ‘alay’.
3.
Tidak
Ingin dibilang ketinggalan Zaman
Remaja
yang masih labil dan gemar meniru, sangatlah mudah tertular dan memilih
menggunakan bahasa ‘alay’ daripada menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Apalagi ada anggapan bahwa bahasa ini adalah bahasa gaul, sehingga orang
yang tidak menggunakannya akan dianggap ketinggalan zaman atau kuno begitu pula
sebaliknya.
Karena
anggapan inilah remaja mengguankan bahasa tulis denagn ciri khas tersendiri.
Mereka tidak ingin terlihat cupu
(culun punya) diantara teman-temannya. Hal ini dibenarkan oleh narasumber yang
mengatakan bahwa:
Isro’i
Pratama Putra (17 tahun)
“Pake
bahasa ‘alay’ tu biar gak ketinggalan zaman, soalnya banyak yang pake bahasa
itu. Jadi ya gak mau dibilang ketinggalan zaman ma temen-temen. Sory la yaw
dibilang cupu hehee…”
4.
Tidak
Membosankan
Bahasa
‘alay’ yang mempunyai ciri khas tersendiri membuat remaja semakin senang
menggunakannya. Karena dengan adanya ciri khas yang dimilikinya akan memberikan
kesenangan tersendiri bagi remaja penggunanya. Mereka cenderung tidak menyukai
bahasa yang mempunyai banyak aturan yang akan mengarah kea rah baku dan kaku
karena akan menimbulkan rasa bosan saat menggunakannya.
Afni Sofia Nengsih (17 tahun)
“Aku
suka pakenya soalnya tuh bahasanya gak ngebosenin, gak itu itu aja,beda lah
sama bahasa Indonesia soalnya kalo bahasa Indonesia itu banyak aturannya
jadinya cepet bosen”.
Karena
bahasa Indonesia yang kaku dan baku serta mempunyai banyak aturan, hal ini yang
menyebabkan mereka lebih senang menggunakan bahasa ‘alay’ yang tidak
membosankan dan bahasa ‘alay’ bukan merupakan bahasa yang kaku dan baku,
sehingga mereka dapat dengan mudah dalam menggunakannya. Karena alasan ini remaja-remaja sekarang
semakin erat dengan bahasa ‘alay’ daripada bahasa Indonesia.
5.
Memiliki
Banyak Variasi
Bahasa
‘alay’ dari waktu ke waktu telah mengalami perubahan dan perkembangan yang
pesat, hal ini desebabkan banyaknya pengguna dari bahasa itu sendiri. Hal ini
menyebabkan variasi dalam bahasa ‘alay’ semakin banyak dan beragam.
Afni
Sofia Nengsih (17 tahun)
“Iya
variasinya banyak banget. Misalnya aja ya kalo ngetik SMS bisa pake angka-angka
gitu. Contoh waktu ngetik “tempat” disa jadi “t4” terus masih banyak lagi sih”.
Isor’i
Pratama Putra (17 tahun)
“Banyak
banget macem-macemnya. Misalnya pas lagi ngomong suka banget bilang “ciyus”,
“miapah”, “so gue harus bilang WOW gitu”. Hehe…. Terus kalo di SMS contohnya
“cecai’ artinya tu “selesai”.
Gambar
1. Variasi Bahasa ‘Alay’
6.
Mengikuti
Trend
Saat
ini di kalangan remaja sedang marak menggunakan jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Dimana dalam jejaring sosial tersebut banyak pengguna yang
menggunakan bahasa ‘alay’. Sehingga banyak remaja yang mengikuti trend tersebut.
Seperti yang dikatakan narasumber bahwa:
Evira
Andriani (17 tahun)
“Karna
yang laen pada pake bahasa itu, jadinya yaa.. ngikutin trend aja”.
7.
Gengsi
dan Ikut-ikutan
Banyak
remaja yang menggunakan bahasa ‘alay’ karena faktor gengsi dan ikut-ikutan
belaka. Hal ini disebabkan karena pola pikir mereka yang masih labil. Hal ini
dibenarkan oleh narasumber yang mengatakan bahwa:
Yongky
Prasetya (17 tahun)
“Ngikutin
arus temen-temen aja sih, biar enak aja sama naikin gengsi juga lah yaaa.. haaha..”.
Isro’i
Pratama Putra (17 tahun)
“Gengsi
lah ya kalo ga meke bahasa itu, soalnya temen-temen juga make sih”.
Hal
ini membuktikan bahwa remaja sekarang lebih mengutamakan gengsi yang ada pada
diri mereka. Gengsi pada remaja sangat tinggi dan mereka tidak mau tertinggal
dari remaja lain. Sehingga mereka tertarik untuk mengikuti dan kemudian
menggunakan bahasa ‘alay’ yang sedang berkembang saat ini.
8.
Tidak
terikat EYD
Bahasa
alay merupakan bahasa gaul yang dalam penulisannya sama sakali tidak
memperhatikan aturan EYD. Sehingga bahasa yang diciptakan tidak baku dan kaku.
Hal ini yang menyebebkan remaja mempenyai kesenangan tersendiri untuk
menggunakan bahasa ‘alay’.
9.
Ingin
Selalu Eksis
Remaja
adalah kelompok yang ingin selalu eksis diantara teman-temannya. Mereka ingin
selalu tampak keren dan menonjol satu sama lain. Sehingga mereka akan selalu
mencoba hal-hal baru yang mereka anggap unik, terbaru dan menarik agar mereka
tetap eksis diantara teman-temannya. Salah satu contoh, mereka menggunakan
bahasa ‘alay’ dalam situasi apapun agar eksistensi mereka tidak pudar.
3.2 Cara Remaja Mengekspresikan
Penggunaan Bahasa ‘Alay’
Semakin
merebaknya penggunaan bahasa ‘alay’ dan semakin banyaknya kosakata bahasa
‘alay’ membuat remaja menjadi semakin tertarik untuk selalu menggunakan bahasa
‘alay’. Dari analisis media massa, penulis menemukan beberapa cara yang
dilakukan remaja dalam mengekspresiakn penggunaan bahasa ‘alay’.
1.
Komunikasi
di Jejaring Sosial
Jejaring
sosial seperti facebook dan twitter sekarang ini sedang marak di
kalangan remaja. Dimana para penggunanya dapat berkomunikasi dengan pengguna
lain di luar daerahnya. Dan mereka dapat update
status, upload fota dan lain sebaganya. Remaja biasanya menggunakan
jejaring sosial ini untuk update status dan
upload foto.
Remaja
‘alay’ biasanya menuliskan statusnya dengan menggunakan bahasa ‘alay’ yang
mempunyai ciri khas tersendiri. Seperti biasa mereka akan menggunakan variasi
antara huruf dan angka, huruf besar dan kecil ataupun menggunakan symbol-simbol
tertentu. Hal ini dibenarkan oleh narasumber
Evira
Andriani (17 tahun)
“seneng
aja kalo bikin status pake bahasa ‘alay’, lebih percaya diri..heheh… kadang
kalo lagi pinjem BB kakak sih sering banget make autotext sama emotnya, biar
statusnya keliatan kerenn”.
Berdasarkan
hasil wawancara di atas, penggunaan bahasa ‘alay’ di dunia maya memang benar
adanya. Bahasa ‘alay’ mereka dapat mereka salurkan melalui situs jejaring
sosial dan hal tersebut memberiakn kesenangan serta menambah rasa percaya diri
mereka diantara teman-temannya.
Gambar
2. Status dengan Bahasa ‘Alay’
2.
SMS (Short Message
Service)
Handphone merupakan teknologi
komunikasi yang dari waktu ke waktu semakin canggih dan semua jenis handphone dilengkapi dengan fasilitas
SMS (Short Message Service). Hampir
semua kelompok remaja sekarang memiliki handphone
dan mereka menggunakannya untuk mengirimkan pesan singkat.
Tidak lupa pula mereka menggunakan
bahasa ‘alay’ yang sudah menjadi ciri khas mereka saat mengetik SMS. Biasanya
saat awal mngetik pesan, mereka mendahuluinya dengan titik spasi kemudain baru
dituliskan pesannya.
Seperti yang dilakukan narasumber
Yongky Prasetya (17 tahun) yang setiap megirim pesan singkat kepada
teman-temannya selalu menggunakan bahas ‘alay’ dan menyingkatnya menjadi
sesingkat mungkin. Hal ini juga dibenarkan oleh narasumber
Afni Sofia Nengsih (17 tahun)
“Waktu SMS sering
banget pake bahasa ‘alay’ soalnya gak ribet, pas ngetiknya juga cepet kan bisa
disingkat-singkat. Kalo pake bahasa Indonesia mana bisa disingkat kayak bahasa
‘alay’”.
Hal ini mkembuktian bahwa SMS
merupakan media yang paling sering digunakan remaja untuk mengekspresikan dan
menggunakan bahasa ‘alay’. Karena setiap hari remaja akan melakukan komunikasi
dengan teman-teman sebayanya.
Gambar 3. SMS ‘Alay’
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
3.
Berbicara
dengan Orang Lain
Saat berbicara dengan orang lain haruslah
menggunakan bahasa yang jelas, baik dan benar agar mudah dipahami oleh lawan
bicara. Namun sekaang, banyak remaja yang tidak memperhatikan aturan tersebut.
Mereka sekarang lebih tertarik untuk menggunakan bahasa ‘alay’ ketika sedang
berbicara dengan orang lain, baik dengan sesama pengguna bahasa ‘alay’ bahkan
bukan dengan pengguna bahasa ‘alay’ tersebut.
Gambar
4. Percakapan Orang ‘Alay’
3.3 Pengaruh Bahasa ‘Alay’ Terhadap
Eksistensi Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia yang baik berarti
maknanya dapat dipahami oleh komunikan dan ragamnya sudah sesuai dengan siuasi
saat bahasa itu digunakan.
Bahasa Indonesia yang benar berarti
bahasa yang memiliki ragam formal dan taat pada kaidah bahasa baku.
Bahasa Indonesia yang baik dan benar
adalah bahasa yang maknanya dapat dipahami dan sesuai dengan situasi pemakainannya
serta tidak menyimpang dari kaidah bahasa baku.
Namun saat ini banyak remaja yang
tidak memakai bahasa yang baik dan benar. Mereka lebih kepada memakai bahasa
‘alay’ yang sudah jelas dalam penulisan maupun pengucapannya tidak sesuai
dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Munculnya bahasa ‘alay’ merupakan
ancaman yang sangat serius terhadap bahasa Indonesia. Bahasa ‘alay’ memberikan
pengaruh bahwa kemampuan berbahasa remaja saat ini semakin buruk dan jauh dari kata baik dan benar. Apabila kegemaran ini berlangsung
lama dan makin dicintai, resmilah kita
mengubur semangat sumpah pemuda berbahasa satu, bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa ‘alay’ dalam
komunikasi baik di dunia nyata maupun dunia maya menimbulkan beberapa masalah,
antara lain:
o Bahasa
‘alay’ dapat mempersulit penggunanya dalam berkomunikasi dengan orang lain
dalam acara formal. Misalnya ketika sedang presentasi di depan kelas.
o
Bahasa ‘alay’ dapat menyulitkan orang
lain yang mendengar kata-kata yang termaksud ‘alay’ untuk mengerti maksud yang
dibicarakannya. Misalnya ketika ingin berbicara rumah dia berkata humz, hum,
um, atau hoz.
o Bahasa ‘alay’ dapat menyulitkan orang lain
yang membaca dengan gaya ‘alay’ untuk mengerti maksud dari apa yang ditulisnya.
Misalnya ketika menulis “besok dating ke rumah saya”, ditulis dengan “b350k dtg
k3 hoZz sAia”.
Akan
tetapi sebagian orang mengatakan bahwa bahasa ‘alay’ dapat membawa pengaruh
positif bagi remaja baik di dunia nyata maupun dunia maya, antara lain:
1. Dengan digunakannya bahasa Alay
adalah remaja menjadi lebih kreaif.
Karena remaja dapat mengembangkan ide yang ada pada diri mereka dan mereka
dapat menciptakan inovasi bahasa yang baru.
2. Bahasa ‘alay’ adalah seni.
Dengan mengkombinasikan antara huruf dan angka, setidaknya membuat orang lain
untuk lebih mencermati bahwa kombinasi itu bisa di baca. Atau mungkin juga bisa
jadi sebuah simbol atau kode rahasia.
Meskipun bahasa ‘alay’ dapat
memberikan pengaruh positif bagi remaja, namun bahasa ‘alay’ telah merusak
keutuhan bahasa Indonesia. Hal tersebut dibenarkan oleh narasumber.
Latifatul Anggraini (17 tahun)
“Menurut aku bahasa ‘alay’ sangat
member pengaruh yang besar terhadap bahasa Indonesia, karna bahasa ‘alay’ telah
merusak eksistensi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mungkin
kelak bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas Negara Indonesia
berangsur-angsur mulai hilang. Selain itu kemampuan para remaja menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar mulai berkurang. Mereka menganggap bahasa
‘alay’ lebih keren dari bahasa Indonesia. Kita sebagai remaja, sebenernya
boleh-boleh aja berbahasa ‘alay’ namun harus pada porsi yang sesuai, hanya pada
saat tertentu aja dan yang paling penting jangan terus-terusan, apalagi nntinya
sampe lupa gimana caranya berbahasa Indonesia gegara bahasa ‘alay’. Hehehe…
Contohnya gara-gara bahasa yang super ‘alay’ kalo lagi SMS-an kita kan jadi
bingung maksud dari SMS itu. Kayak orang pacaran gara-gara maksud si cewe itu
sedangkan si cowok itu kan jadi salah paham, terus tengkar dan bisa-bisa jadi
putus deh…. Pokoknya bahasa ‘alay’ tuh gak terlalu menguntungkan deh, kalo
dipilir-pikir lebih banyak ruginya. Dan jangan sampe loh nanti pelajaran bahasa
Indonesia berubah jadi pelajaran bahasa ‘alay’. Hahaha..".
Rindy Celviyanti (17 tahun)
“Menurut pendapat saya, sangat
berpengaruh sekali terhadap bahasa Indonesia, disisi lain banyak remaja yang
menggunakan bahasa ‘alay’ dibandingkan bahasa Indonesia karna lebih
mengasikkan.. karna itulah bahasa Indonesia selalu ditinggalkan ataupun jarang
sekali digunakan. Memang sih, bahasa ‘alay’ bisa buat hidup menjadi senag bagi
remaja saat ini. Tidak ada masalahnya kok yang penting remaja saat ini masih
mengetahui bahasa asli Negara kita sendiri”.
Endah Sumardianti (17 tahun)
“Menurut saya, menggunakan bahasa
‘alay’ tidak terlalu penting karna bahasa ‘alay’ hanya digunakan untuk
kesenangan belaka. Banyak anggaoanyang menyatakan menggunakan bahasa ‘alay’ itu
gaul. Namun sebenarnya anggapan itu tidak terlalu benar karna menggunakan
bahasa Indonesia dengan baik dan benarlah yang dapatmembiasakan kita berkata
baik dn santun. Sedangkan orang yang menggunakan bahasa ‘alay’ terkadang dalam
berkata bahasa Indonesia masih tercampur aduk dengan bahasa ‘alay’ yang sering
digunakannya. Hal itulah yang mempengaruhi bahasa Indonesia menjadi tidak
efektif”.
Eva Indriani (16 tahun)
“Bahasa Indonesia jadi
tersingkirkan karna banyak anak muda kalo ngomong gak pake bahasa Indonesia yan
baik dan benar jistru make bahasa ‘alay’ biar terkesan gaul. Dia tu gengsi kalo
make bahasa Indonesia, padahalkan bahasa Indonesia itu bagus. Cumin pemikiran
anak muda sekarang tu kayaknya kalo gak ‘alay’ itu gak maju, mereka gak mau
dianggap cupu”.
Hal ini membuktikan bahwa bahasa
‘alay’ telah menghambat perkembangan bahasa Indonesia di kalangann remaja.
Pengaruh bahasa ‘alay’ terhadap eksistensi bahasa Indonesia sangat besar.
Bahasa Indonesia sekarang sudah jauh dari kata indah karena telah dicemari oleh
penggunaan bahasa ‘alay’ yang semakin merajelela. Pengaruh tersebut antara
lain:
o
Masyarakat
Indonesia tidak mengenal lagi bahasa baku.
o
Masyarakat
Indonesia tidak memakai lagi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
o
Masyarakat
Indonesia menganggap remeh bahasa Indonesia dan tidak mau mempelajarinya karena
merasa dirinya telah menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar.
o
Dulu
anak – anak kecil bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi
sekarang anak kecil lebih menggunakan bahasa gaul. Misalnya dulu kita memanggil
orang tua dengan sebutan ayah atau ibu, tapi sekarang anak kecil memanggil ayah
atau ibu dengan sebutan bokap atau nyokap.
o
Penulisan
bahasa indonesia menjadi tidak benar. Yang mana pada penulisan bahasa indonesia
yang baik dan, hanya huruf awal saja yang diberi huruf kapital, dan tidak ada
penggantian huruf menjadi angka dalam sebuah kata ataupun kalimat.
Bahasa Alay secara langsung maupun tidak
telah mengubah remaja Indonesia untuk tidak mempergunakan bahasa Indonesia
dengan baik dan benar. Jika hal ini terus berlangsung,
dikahawatirkan akan menghilangkan budaya berbahasa Indonesia dikalangan remaja
bahkan dikalangan anak-anak. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa remi
negara kita dan juga sebagai identitas bangsa.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Faktor penyebab penggunaan bahasa
‘alay’ di kalangan remaja antara lain:
·
Teknologi
komunikasi dan informasi
·
Ingin
diakui keberadaannya
·
Tidak
ingin dibilang ketinggalan zaman
·
Tidak
membosankan
·
Memiliki
banyak variasi
·
Mengikuti
trend
·
Gengsi
dan ikut-ikutan
·
Tidak
terikat EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)
·
Ingin
selalu eksis
Cara remaja mengekspresikan
penggunaan bahasa ‘alay’ antara lain:
·
Komunikasi
di jejaring sosial
·
SMS
(Short Message Service)
·
Berbicara
dengan orang lain
Dampak penggunaan bahasa ‘alay’
antara lain:
·
Dampak
positif
o
Dengan
digunakannya bahasa Alay adalah remaja menjadi lebih kreaif
o
Bahasa
‘alay’ adalah seni
·
Dampak
negatif
o
Masyarakat
Indonesia tidak mengenal lagi bahasa baku.
o
Masyarakat
Indonesia tidak memakai lagi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
o
Masyarakat
Indonesia menganggap remeh bahasa Indonesia dan tidak mau mempelajarinya karena
merasa dirinya telah menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar.
o
Dulu
anak – anak kecil bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi
sekarang anak kecil lebih menggunakan bahasa ‘alay’
o
Bahasa ‘alay’ dapat mempersulit
penggunanya dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam acara formal.
o
Bahasa ‘alay’ dapat menyulitkan orang
lain yang mendengar kata-kata yang termaksud ‘alay’ untuk mengerti maksud yang
dibicarakannya.
o
Bahasa ‘alay’ dapat menyulitkan orang
lain yang membaca dengan gaya ‘alay’ untuk mengerti maksud dari apa yang
ditulisnya.
Tata
bahasa Indonesia pada saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Masyarakat
Indonesia khususnya para remaja, sudah banyak kesulitan dalam berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perubahan tersebut
terjadi dikarenakan adanya penggunaan bahasa baru yang mereka anggap sebagai
kreativitas. Jika mereka tidak menggunakannya, mereka takut dibilang ketinggalan
zaman atau tidak gaul. Salah satu dari penyimpangan bahasa tersebut diantaranya
adalah digunakannya bahasa ‘alay’.
Bahasa
‘alay’ secara langsung maupun tidak telah mengubah remaja Indonesia untuk tidak
mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dan ini merupakan
pertanda kemampuan berbahasa generasi muda zaman sekarang buruk. Memang dalam
ilmu bahasa ada beragam bahasa baku dan tidak baku. Bahasa baku biasanya
digunakan dalam acara-acara yang formal. Tetapi bahasa ‘alay’ merupakan bahasa
gaul yang tidak mengindah. Keberadaan bahasa ‘alay’ memang sangat mengganggu
eksistensi bahasa Indonesia. Banyak remaja yang sudah tidak mengindahkan bahasa
Indonesia dan banyak dari mereka yang tidak lagi mengenal bahasa Indonesia yang
baik dan benar.
4.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis
cantumkan dalam karya tulis ini adalah sebaiknya remaja jangan berlebihan dalam
menggunakan bahasa ‘alay’ karena dapat mengganggu perkembangan bahasa Indonesia
di kalangan remaja. Dan hendaknya melakukan pemahaman yang mendalam terhadap
pengaruh bahasa ‘alay’ serta mulailah dari diri kita sendiri untuk membudidayakan bahasa
Indonesia dan meningkatkan kembali eksistensinya di kalangan remaja.
Kita
boleh menggunakan bahasa ‘alay’, akan tetapi jangan sampai menghilangkan budaya
berbahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi kenegaraan
dan lambang dari identitas nasional, yang kedudukannya tercantum dalam Sumpah
Pemuda dan UUD 1945 Pasal 36.
Untuk
peneliti selanjutnya, penulis menyarankan
untuk meneliti lebih mendalam mengenai faktor-faktor penggunaan bahasa ‘alay’
dan pengaruh bahasa ‘alay’ terhadap eksistensi bahasa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2012.”Penggunaan
Bahasa Alay”.(Online) http://ayumeilana.blogspot.com/2010/10/bahasa-alay-mengancam-penggunaan-bahasa.html.
Diakses 1 September 2012.
Anonim.2012.”Bahasa
‘Alay’ Merusak Bahasa Indonesia”.(Online) http://aaknasional.wordpress.com/2012/01/28/bahasa-alay-merusak-bahasa-indonesia/.
Diakses 1 September 2012.
Anonim.2012.” Bahasa Indonesia”.(Online)
http://bigfat-evillaugh.blogspot.com/2011/10/bahasa-indonesia-sebagai-bahasa-negara.html.
Diakses 3 September 2012.
Anonim.20 12.”Sejarah Bahasa”.(Online) http://jaririndu.blogspot.com/2012/01/sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia.html
Diakses 14 September 20
12.
Anonim.20 12
.”Trend Bahasa Alay”.(Online)
http://siti-wulandari.blogspot.com/2012/07/ternd-bahasa-alay-menyimpang-dari.html.
Diakses 1 September 2012.
Anonim.20 12 .”Dampak Bahasa Alay”.(Online) http://sikenarok.blogspot.com/2011/05/dampak-penggunaan-bahasa-alay.html.
Diakses 5 September 2012.
Anonim.”Perkembangan
Bahasa Indonesia”.(Online) http://ovaltinesusu.wordpress.com/2012/01/15/bagaimanakah-perkembangan-bahasa-indonesia-saat-ini/.
Diakses 14 September 20 12.
Anonim.”Faktor
Menyukai Bahasa Alay”.(Online)
http://kolom-inspirasi.blogspot.com/2011/11/kenapa-banyak-remaja-suka-bahasa-alay.html.
Diakses 6 September 2012
Anonim.20 12 .”Bahasa Alay”.(Online) http://romiranggapp.blogspot.com/2012/02/bahasa-alay-merusak-tata-bahasa.html.
Diakses 5 September 2012
Anonim.20 10.”Pengertian Alay”.(Online) http://lupherblueniz.blogspot.com/2010/03/definisi-alay-menurut-para-ahli-kamus.html.
Diakses 12 September 20 12
DAFTAR
INFORMAN
|
No
|
Nama
|
Umur
|
Kelas
|
|
1.
|
Afni
Sofia Nengsih
|
17 Tahun
|
XII IS 2
|
|
2.
|
Eva
Indriani
|
16 Tahun
|
XII IS 2
|
|
3.
|
Endah
Sumardianti
|
17 Tahun
|
XII IS 2
|
|
4.
|
Evira
Andriani
|
17 Tahun
|
XII IS 2
|
|
5.
|
Isro’i
Pratama Putra
|
17 Tahun
|
XII IS 2
|
|
6.
|
Latifatul
Anggraini
|
17 Tahun
|
XII IS 2
|
|
7.
|
Rindy
Celviyanti
|
17 Tahun
|
XII IS 2
|
|
8.
|
Yongky
Prasetya
|
17 Tahun
|
XII IS 2
|
PEDOMAN
WAWANCARA
1. Sejak
kapan anda menggunakan bahasa ‘alay’?
2. Faktor
apa saja yang membuat anda menggunakan bahasa ‘alay’?
3. Kapan
biasanya anda menggunakan bahasa ‘alay’?
4. Apakah
anda selalu menggunakan bahasa ‘alay’?
5. Dalam
bentuk apa anda mengekspresikan kesenangan anda menggunakan bahasa ‘alay’?
Lisan atau tulisan?
6. Anda
lebih sering menggunakan bahasa ‘alay’ atau bahasa Indonesia?
7. Kenapa
anda menyukai bahasa ‘alay’ daripada bahasa Indonesia?
8. Menurut
anda bagaimana perkembangan bahasa Indonesia sekarang?
DOKUMENTASI
BIODATA
Nama : Reni
Chotimah
Tempat Tanggal Lahir : Rimbo Bujang, 11 Mei 1994
Jenis Kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Alamat
: Jalan 11 Unit 1 Rimbo Bujang
Riwayat Pendidikan
: TK Pertiwi I Kabupaten Tebo Tahun 2000
SD Negeri 60 Kabupaten Tebo Tahun 2006
SMP Negeri 31 Kabupaten Tebo Tahun 2010
SMA Negeri 2 Kabupaten Tebo Tahun 2010 - sekarang